manusia itu lebih lemah dari apa yang dia pikirkan. jika ada satu organ yang sakit, maka semua tubuh akan merasakannya. dalam cerita kuno, udah banyak sekali dibahas contohnya tumit achilles. manusia setengah dewa yang mati karena tumitnya tertusuk panah.
kegagalan sistem yang sempurna karena tertembusnya titik rentan. karena orang tahu titik rentannya, maka dia bangun persona yang baru yang lahir dari ketakutan tersebut. inilah yang disebut sebagai overcompensation. alih-alih membiarkan kelemahannya terbuka, kita membangun sebuah armor yang sangat dalam sehingga mengubah psikologis kita. seperti memakai topeng yang makin lama akan makin sulit dicabut.
tentu ada bad thing dan good thing dengan overcompensation. dia built in resilience, rasa tidak mudah menyerah, high motivation dengan trade off adalah mental bandwith untuk tetap bertahan dalam topeng tersebut. akan ada rasa exhaustion untuk menjaga image tersebut, kelelahan secara mental. sehingga bisa menimbulkan cycle of addition kepada sesuatu yang bisa memberikan relieve atau segala hal yang bisa merelease tension tersebut. tidak mudah untuk mengubah sebuah hal yang sudah terlanjur terkubur dalam. resiko terbesar overcompensation adalah ketika collapsenya identitas karena kita bangun sesuatu dari kelemahan.
kelemahan itu universal value dialami setiap orang dan tiap kelemahan datang dengan kekuatan. kalau kita terframing untuk melihat orang lain dan membanding-bandingkan dengan kita, selamanya kita akan hidup dalam bayang-bayang ide tersebut dan tertutup dengan another possibility lain dari diri kita.
kita hidup di dunia dengan segala sesuatu yang terbatas, limited energy, limited time, limited resource dan itulah asalnya value. achilles's heel bukanlah sesuatu untuk ditutupi, tapi dia adalah sumber kekuatan. bagaimana kita tetap bisa maju, memperbaiki kekurangan tersebut dan mengikhlaskan kemalangan yang terjadi pada diri kita merupakan bentuk keberanian.
https://youtube.com/clip/Ugkx4CjBnnDVq8CJycht_ZZrPKfju8vibO1O
