kalau ada sesuatu yang ditakutkan, yang sebenarnya bikin takut adalah pikiran kita sendiri. waktu kecil, pernah suatu ketika ane nangis karena ngeliat film horor karena takut setan akan ngelakuin hal jahat ke diri ane. ketika dewasa, keknya buat apa kita takut pada setan, masa setan tega mau ngelakuin hal jahat ke kita yang hidup biasa-biasa aja dibandingkan para koruptor yang hidup seperti raja dimana rakyat kesusahan. dialektika semacam ini dak akan bisa terbangun kalau kita dak senang membaca.
membaca kan membangun imaginasi, melihat dari apa yang tak kasat mata. diolah kembali dalam bentuk karya lain. dan, setelah banyak karya kita baca, maka kita tahu bahwa meskipun pengalamannya berbeda-beda, tetapi part, alur dan polanya adalah sama.
di jaman modern, kemampuan membaca ini begitu berkurang karena sajian sosmednya adalah kebanyakan dalam video, bukan dalam tulisan. apalagi jika video tersebut menampilkan hal yang tidak kita miliki, maka kita merasa seperti pihak yang tiba-tiba merasa termarginalkan. kurang ganteng atau cantik, padahal model sosmednya oplas semua.
tanpa dialektika, saya akan terus merasa bahwa setan itu kerjaannya akan selalu melukai orang-orang entah sebagai tumbal dan akibatnya saya takut berjalan sendiri, takut di kegelapan, bahkan mungkin bayangan saya sendiri.
kalau kita beli saham gak ngerti yang dibeli, ya sama aja seperti ketemu setan
