Sunday, February 17, 2019

Belajar Saham -Update Report

Sobat Net, salah satu cara agar bisa sukses dalam dunia pasar modal adalah jangan bangkrut. Yups, ini adalah kunci rahasianya. Hilang uang berapapun, asalkan kita masih ada modal untuk trading, maka kesempatan untuk balik modal dan meraih cuan masih terbuka lebar. Oleh sebab itu, ilmu terpenting yang harus dimiliki oleh seorang trader adalah money management.

Tabel dibawah adalah perhitungan gain/loss penulis dalam bermain saham dengan modal awal 35 juta dan akan selalu di-update tiap bulan sebagai catatan pencapaian penulis dalam trading saham.

    
Bisa diketahui dari tabel tersebut kemampuan penulis dalam bermain saham. Dimulai dari bulan Oktober 2018. November 2018 merupakan bulan paling jelek bagi penulis. Bagaimana tidak, IHSG naik hingga 4.4%, namun portofolio penulis malah turun hingga minus 5%. Disini adalah titik paling stress bagi seorang trader yakni ketika kebanyakan harga saham telah naik, namun saham yang dipegang malah turun. 

Sebenarnya jika ditilik pada bulan tersebut, yang membuat minus hanya satu saham saja. Penulis sangat percaya bahwa harga saham ini akan naik. Sehingga ketika saham tersebut malah nyatanya jatuh curam, penulis sangat kebingungan dan terlambat untuk melepas. Padahal, dibulan berikutnya, harga saham tersebut pada akhirnya naik juga. Yups, naik setelah dilepas. Good lesson here.

Penulis akhirnya comeback dengan membukukan kenaikan mengalahkan IHSG pada dua bulan selanjutnya dan portofolio menjadi cuan, baik realized profit yakni saldo balance RDI yang sudah balik modal maupun yang unrealized/ floating atau keuntungan yang belum dicairkan dari portofolio yang masih terpegang.  

Mari kita lihat report-report di bulan selanjutnya ... 

Untuk belajar trading bisa menghubungi penulis melalui komen dibawah.

Wednesday, January 9, 2019

Investree (2): Biayai Pinjaman dengan Reksadana

Investree

Selain P2P lending, platform Investree juga menghadirkan instrument investasi lainnya, yakni reksadana. Reksadana yang ditawarkan oleh Investree adalah reksadana pasar uang, yakni TRIM KAS 2 dari Trimegah Asset Management

Penggunaan reksadana di P2P lending ini sangat penting. Hal ini bisa membuat kita lebih leluasa dalam memilih jenis pembiayaan yang akan kita lakukan. Jika menurut kita, jenis pembiayaan hutang yang ditawarkan oleh Investree saat ini tidak cocok, maka kita bisa mengarahkan sementara uang yang kita miliki ke dalam reksadana. Jadi, dengan kata lain, uang yang kita tanamkan di Investree akan selalu menghasilkan. Hal ini menjadi penting dibandingkan memilih pembiayaan yang beresiko tinggi untuk menghindari uang ngendon saja tanpa menghasilkan bunga. Yang pada akhirnya, malah merugikan kita.

Reksadana di Investree
Selain itu, reksadana ini juga berguna apabila pembiayaan kita telah dibayar lunas dan kita tidak ingin menarik bunga itu langsung ke rekening kita. Ketika pokok pinjaman telah dibayarkan dan ada pinjaman yang sesuai, kita bisa langsung menginvestasikan lagi pokok pinjaman tersebut. Sedangkan, untuk bunga pinjaman yang telah dibayarkan bisa kita masukkan ke reksadana. Hal ini penting untuk menghindari pengeluaran biaya transfer yang harus kita keluarkan apabila menarik uang bunga hasil pinjaman secara langsung dari Investree yang bisa kita keluarkan setiap transfer uang balik ke rekening kita.

Akan lebih baik, apabila dimasukkan ke reksadana terlebih dahulu. Setelah terkumpul hasil yang cukup dari hasil akumulasi beberapa bunga dari pinjaman yang telah dibayarkan, kita bisa menjual reksadana tersebut dan memasukkan ke dalam rekening kita. Hal ini lebih menguntungkan karena tidak ada biaya transfer jika kita membeli reksadana dari uang yang ada di Cash-In-Hand akun Investree kita.

Salah satu hal yang Sobat Net perlu ketahui tentang penggunaan reksadana yang ada di platform Investree adalah bahwa reksadana tersebut bisa secara langsung digunakan untuk pembiayaan suatu pinjaman. Hal ini bisa lakukan, dengan catatan bahwa total investasi yang ada di reksadana tersebut memiliki nilai minimal dua juta rupiah. Caranya adalah sebagaimana berikut:

1. Pada saat pilihan pembiayaan, antara pilihan Cash-In-Hand dan reksadana, kita pilih reksadana dan masukkan nominal yang diinginkan.   
Pilih "Reksadana" untuk Pembiayaan Pinjaman
2. Dari jenis pembiayaan pinjaman, portofolio kita akan terpotong sesuai dengan nominal yang kita masukkan dan One Time Password (OTP) akan dikirimkan ke ponsel kita untuk mengkonfirmasi hal yang kita lakukan. Investree secara otomatis akan memerintahkan sistem untuk melakukan penjualan porto reksadana kita.
Porto Reksadana Terpotong

3. Reksadana yang dicairkan ke Cash-In-Hand di akun Investree kita, secara otomatis akan langsung masuk ke pembiayaan pinjaman yang kita pilih. 

Sebuah cara yang sangat mudah, bukan? Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh platform P2P Lending Investree. Silahkan daftar sekarang juga melalui tautan berikut untuk mulai berinvestasi.

Saturday, December 29, 2018

Saham: Bagaimana Deviden Tunai Dibagikan?

Sempat dibahas pada tulisan sebelumnya, bahwa dengan membeli saham, ada dua keuntungan yang bisa didapatkan, yakni Capital Gain dan juga Deviden. Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai cara untuk memperoleh deviden. Untuk mengetahui pengumuman mengenai pembagian deviden tunai, bisa dilihat dari Kostudian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada tautan sebagaimana berikut

Pada kesempatan kali ini, kita akan tengok jadwal pembagian deviden INDY yang dilakukan pada Desember 2018. Adapun, surat resminya bisa dilihat pada tautan berikut. Kita lihat pada surat tersebut dikeluarkan pada tanggal 5 Desember 2018. Setelah surat keluar biasanya para broker akan menginfokan perihal informasi ini pada para trader atau ada juga broker yang menginformasikan hanya pada saat tanggal Cum Date. Istilah-istilah ini akan kita bahas selanjutnya. 

Jika dilihat pada surat tersebut, maka akan bisa dilihat jadwal pembagian deviden tunai sebagaimana berikut:

Jadwal Pembagian Deviden Tunai
Hal yang perlu diperhatikan pada lampiran jadwal pembagian deviden tunai tersebut adalah tanggal Cum Date, Ex Date, pembayaran deviden dan juga jumlah deviden.

Cum Date adalah tanggal akhir periode perdagangan saham dimana para pemegang saham memperoleh hak deviden. Sebaliknya, Ex Date adalah akhir periode perdagangan saham dimana para pemegang sahamnya tidak mendapatkan hak deviden

Pada contoh diatas, Cum Date adalah pada tanggal 11 Desember dan Ex Date pada 12 Desember. Jadi, siapapun yang memiliki saham INDY hingga jam bursa berakhir pada periode 11 Desember akan mendapatkan deviden. Meskipun, ia baru membeli saham pada saat jam penutupan bursa dan menjual saham tersebut pada keesokan harinya. Inilah yang sering kali membuat harga saham langsung anjlok pada hari bursa pada hari Ex date yang jatuh satu hari setelah Cum Date. Hal ini disebabkan banyak orang yang mengincar keuntungan dari deviden. Artinya, ia membeli saham pada saat Cum Date dan menjualnya pada saat Ex Date, yang mengakibatkan panic selling. Apalagi jika deviden yieldnya tinggi. Namun, membeli saham hanya mengandalkan untuk mendapatkan deviden, juga memiliki konsekuensi yang bisa sangat merugikan, seprti dicontohkan pada kasus MERK

Pasar bursa yang aktif diperdagangkan adalah pasar bursa reguler. Yang lainnya, bisa dihiraukan saja. Selanjutnya, yang perlu kita lihat adalah tanggal pembayaran deviden. Pada contoh pembagian deviden INDY, tanggal pembayaran deviden adalah pada tanggal 28 Desember 2018. Jika kita adalah pemegang saham INDY pada tanggal Cum Date, maka kita akan menerima deviden tersebut pada tanggal 28 Desember 2018, yang diinfokan oleh broker kita. Berikut adalah contoh e-mail yang penulis dapatkan dari broker terkait pembayaran deviden.

Email Perihal Pembagian Deviden dari Broker 
Bisa dilihat diatas, nominal yang penulis dapatkan dari pembagian deviden INDY, berdasarkan dari jumlah saham dikalikan dengan nilai deviden/ saham. Tentu saja nilai tersebut akan dikurangi pajak. Hak yang diterima penulis seperti ditunjukkan diatas sudah merupakan nilai bersih dan langsung dimasukkan ke dalam Rekening Dana Investor penulis yang bisa dilihat di Online Trading System (OTS) bawaan broker.

Demikian cara untuk mendapatkan deviden dari saham. Mudah-mudahan informasi ini bisa menambah kepercayaan Sobat Net yang sedang berusaha untuk terjun dalam dunia pasar modal.
 

Friday, December 28, 2018

Shopback: Klaim Jika Cashback Tidak Tercatat

Sobat Net, pada tulisan terdahulu kita telah membahas bagaimana cara yang bisa kita lakukan agar cashback masuk ketika menggunakan Shopback. Tulisan tersebut bisa dilihat pada tautan berikut.

Namun, apabila cara diatas telah dilakukan, tetapi cashback kita tidak tercatat di sistem Shopback. Satu cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan meng-klaim transaksi yang kita lakukan, agar cashback bisa masuk ke akun Shopback kita.

Bagaimana klaim transaksi ini dilakukan di Shopback?
Hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa memang transaksi yang Sobat Net lakukan tidak tercatat di "Rincian Saldo" akun Shopback. Untuk hal ini, beri jeda waktu dua-tiga hari sebelum melakukan pengecekan. 

Jika memang setelah dua-tiga hari, transaksi yang Sobat Net lakukan tidak tercatat di "Rincian Saldo", maka Sobat Net bisa melakukan klaim Cashback yang hilang. Caranya adalah masuk ke dalam akun Shopback dan klik gambar "tanda tanya", untuk masuk ke bagian "Cashback Hilang".

Menu Klaim Cashback Hilang
Pada bagian tersebut, pilih "Toko" dan juga "Tanggal" untuk menunjukkan waktu dan tempat transaksi yang Sobat Net lakukan. Jika tidak ada pilihan yang sesuai, maka berarti Sobat Net tidak masuk ke Online Shop tersebut melalui tautan dari Shopback. Oleh sebab itu, maka Cashback tidak terekam.
Pilihan transaksi yang ingin diklaim
Jika sudah, klik "Lanjut" dan isi semua pertanyaan yang berhubungan transaksi yang Sobat Net lakukan. Jika sudah selesai, maka akan muncul e-mail dari Shopback yang menyatakan bahwa cashback kita sedang diperiksa dan pada "Rincian Saldo", akan keluar jenis transaksi yang kita lakukan, namun dengan status "Investigasi" seperti ditunjukkan oleh gambar dibawah.

Investigasi cashback yang hilang di "Rincian Saldo"
Setelah itu, kita tinggal menunggu saja investigasi tersebut, jika memang transaksi kita valid, maka cashback akan kita dapatkan dengan status "Tertunda", yang bisa ditarik pada waktu yang telah ditentukan. Namun, jika memang transaksi kita tidak valid karena suatu alasan tertentu, maka akan muncul status "Ditolak" pada transaksi yang kita lakukan.

Hasil investigasi: Tertunda/ Ditolak
Demikian posting ini dibuat. Semoga posting ini bisa memberikan penjelasan pada Sobat Net yang sering melakukan belanja online lewat Shopback. Namun, transaksi tidak tercatat. Jangan ragu untuk meng-klaim apabila cashback Sobat Net tidak tercatat dengan melakukan hal yang diterangkan diatas. Penulis telah membuktikan bahwa cara ini terbukti telah mengembalikan cashback penulis karena transaksi yang tidak tercatat.     

Thursday, December 27, 2018

Investree (1): P2P Lending- Bagaimana Jika Telat Bayar?

Sobat Net, pada kali ini akan kembali dijelaskan mengenai P2P Lending, yaitu platform Investree. Sebagaimana, diketahui P2P Lending merupakan sebuah jenis investasi alternatif yang memiliki bunga yang cukup tinggi. Yakni, hingga bisa mencapai 20%. Nilai ini lebih besar jika dibandingkan yang bisa kita dapat di reksadana. Tentu saja, dengan faktor resiko yang juga sebanding.

Resiko dalam menggunakan P2P lending adalah resiko wan prestasi atau gagal bayar. Resiko ini ditanggung sendiri oleh pemberi pinjaman. Hal ini harus selalu diungkapkan P2P Lending. Ini adalah contoh yang dijelaskan oleh Investree dalam setiap e-mail pembiayaan yang Sobat Net lakukan di Investree.

Disclaimer Resiko P2P Lending

Bagaimana untuk mengatasi atau meminimalisir gagal bayar ini agar tidak kita alami ketika berinvestasi melalui P2P lending? Hal ini sudah pernah dijelaskan pada Seri Investasi P2P Lending dan bisa disimak kembali melalui tautan berikut.

Pada posting kali ini, kita akan membahas mengenai pengalaman penulis mengalami telat bayar pada P2P lending di Investree. Hal ini semata-mata untuk memberi kita informasi mengenai faktor risk dan juga reward ketika berinvestasi pada instrumen keuangan, yang dalam hal ini khususnya adalah P2P lending.

Bunga yang sudah didapat penulis di Investree
Selama menggunakan Investree selama tiga bulan, tercatat penulis telah mendapatkan bunga hampir satu juta. Dimana, bunga tersebut penulis tanamkan pada reksadana yang ada pada Investree dan pokok pembayarannya, penulis masukkan kembali untuk pemberian pinjaman. Untuk mengetahui, fasilitas yang dimiliki oleh Investree, bisa dilihat kembali pada tautan berikut.

Jika terjadi telat bayar, sesuai dengan pengalaman penulis, maka Investree akan memberitahukan perihal tersebut melalui e-mail. Dibawah adalah contoh pemberitahuan telat bayar yang diinformasikan oleh Investree melalui e-mail

Informasi telat bayar Investree
Bisa dilihat bahwa, meskipun loan grade tersebut memiliki resiko yang rendah yakni A2, tidak menjamin bahwa pengembalian pinjaman yang dilakukan bisa tepat waktu. Tidak perlu khawatir, pengembalian pinjaman nantinya akan diinfokan melalui e-mail selanjutnya. Untuk melihat ringkasan dan seberapa lama telatnya pengembalian pinjaman kita di Investree, bisa dilihat di halaman utama Investree, sebagaimana berikut:

Halaman muka Investree untuk melihat debitur telat bayar
Jadi, segala informasi bisa dilihat secara lengkap di platform Investree, berikut juga dalam hal keterlambatan pembayaran. Adapun, dalam kasus tersebut, pada akhirnya pembayaran dilakukan oleh peminjam dalam bentuk parsial, yang juga diinfokan melalui e-mail. Dan, hal ini bisa diketahui juga dari situs Investree dengan mencari pada bagian funding information pada debitur yang telat melakukan pembayaran tersebut. 

Informasi pembayaran debitur 
Pada bagian tersebut, secara jelas disebutkan berapa jumlah pinjaman, berapa yang sudah dibayar, sisa pokok yang belum dibayar, bunga/ujroh dan juga pajak. Semuanya disajikan secara transparan di Investree. Adapun dana yang sudah terbayarkan, bisa langsung kita gunakan kembali. 

Informasi tersebut diatas, tentu saja penting untuk diketahui ketika kita berinvestasi dalam sebuah P2P lending, yang dalam hal ini yang dicontohkan adalah Investree. Resiko dan reward akan selalu ada dalam tiap investasi. Pilihlah investasi dengan menimbang resikonya terlebih dahulu, baru kemudian rewardnya. Keunggulan di Investree sendiri, jika kita belum memiliki kriteria yang pantas dalam sebuah debitur, sesuai track-recordnya, kita bisa menyimpan uang kita terlebih dahulu di fasilitas reksadana yang disediakan supaya tetap mendapatkan bunga. Untuk kemudian, jika telah menemukan debitur yang cocok, kita bisa langsung melakukan pembiayaan langsung dari reksadana tanpa harus mencairkannya terlebih dahulu. Cara ini akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

Keep Stay Tuned.  

Wednesday, December 26, 2018

Saham: Pilih Deviden atau Capital Gain? (Kasus Saham MERK)

Salah satu hal yang menjadi topik yang menarik dalam dunia pasar modal adalah apakah kita ingin mengejar Capital Gain atau deviden. Untuk diketahui Sobat Net, Capital Gain adalah selisih harga jual dikurangi harga beli. Sedangkan, Deviden adalah pembagian laba kepada para pemegang saham sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki.

Tentu saja, sebagai sebagai seorang investor, kita ingin mendapatkan kedua-duanya. Namun, masalahnya tidaklah sesederhana itu. Biasanya ketika Sobat Net mengincar deviden dengan membeli saham pada saat hari pencatatan deviden (Cum Date), tak jarang harga saham tersebut malah jatuh. Kesempatan deviden ini, biasanya dimanfaatkan oleh bandar untuk me-mark-up harga setinggi mungkin, sehingga tak jarang pada saat Cum Date, investor ritel yang tergerak untuk membeli saham karena keinginan untuk memperoleh deviden, malah mendapatkan harga yang tinggi. Esoknya, tidak bisa dipungkiri, harga akhirnya jatuh, karena peristiwa panic selling.

Salah satu contoh peristiwa menarik yang berhubungan dengan hal diatas adalah pembagian deviden Merk pada Desember 2018.

Pada tanggal 11 Desember 2018, para investor ritel/ kecil memperoleh informasi bahwa Emiten Merk akan membagikan deviden interim, dengan Cum Date yakni 14 Desember.

Pengumuman Pembagian Deviden Merk
Mari kita lihat background harga dari Merk sebelum pengumuman deviden, yakni sebelum tanggal 11 Desember 2018.

Pergerakan Harga Saham Merk Selama 2018
Bisa dilihat, bahwa harga pada sepanjang tahun 2018, saham Merk mengalami penurunan. Hal ini tentu saja membuat saham ini tidak diminati oleh ritel. Namun, begitu mendekati bulan Desember. Mari kita lihat gambar selanjutnya.

Perubahan Harga Saham Merk Selama Desember (Akibat Deviden)
Bisa dilihat pada tanggal 5 Desember 2018, tiba-tiba, harga Merk terkerek naik secara signifikan. Naiknya Merk ini tanpa disertai dengan volume transaksi yang tinggi. Artinya adalah, saham ini tidak likuid. Hanya dengan jumlah volume transaksi yang relatif kecil, begitu mudah harga akan bereaksi. Ini adalah peringatan pertama adanya manipulasi terhadap saham ini. Dalam tempo waktu tujuh hari, yakni mulai tanggal 5-11 Desember, saham ini naik secara signifikan dari mulai harga awal 5190 menjadi 7730, atau naik sekitar 50%. Dengan kata lain, Jika Sobat Net, memiliki uang 5 juta, maka dalam tujuh hari, uang anda akan bertambah menjadi 7,5 juta. Tentu saja, publik baru mengetahui pembagian deviden pada tanggal 11 Desember, yakni ketika harga 7730.

Dan, lihat yang terjadi setelah pengumuman deviden pada tanggal 11 Desember tersebut. Harga langsung turun. Para ritel secara tidak langsung telah dipaksa membeli saham dengan harga yang sudah tinggi dengan iming-iming Deviden Jumbo. Disinilah, permainan bandar untuk memainkan perasaan fear and greed dari para pelaku pasar.

Drama berlanjut, karena adanya revisi cum date dari yang semula 14 Des ke 20 Des dan juga revisi jumlah deviden yang dibagikan.

Revisi Tanggal Pencatatan Deviden dan Jumlah Deviden Merk
Harga terakhir pada saat pencatatan deviden, yakni pada tanggal 20 Desember 2018 adalah 7300. Dua hari setelah deviden, harga terakhir anjlok menjadi 4680. Harga ini lebih rendah daripada harga pada saat mark-up pertama kali pada tanggal lima, yakni 5190.

Hal yang membuat drama ini makin menarik adalah pada harga 4680 tersebut, masih tidak ada yang mau membeli Merk. Hal ini terlihat pada papan bid-offer Merk yang kosong pada bagian Bid. Dibawah adalah bid-offer Merk pada tanggal 26 Desember 2018

Bid-Offer Merk Dua Hari Bursa Setelah Cum Date
Jadi, tidak ada penjual yang bisa menjual sahamnya. Nilai 4680 adalah nilai minimum yang diperbolehkan dalam satu hari bursa pada hari tersebut. Ada aturan mengenai nilai maksimum suatu saham bisa bergerak dalam satu hari bursa, yang disebut auto rejection. Selengkapnya, bisa dibaca melalui tautan berikut.

Jadi, bayangkan, bila kita membeli saham tersebut ketika melihat devidennya yang jumbo, yakni pada saat diumumkan pada tanggal 11 Desember, kita akan memperoleh harga 7730, atau taruhlah pada saat menit terakhir penutupan bursa pada tanggal 20 Desember, yakni 7300. Safety margin kita adalah jumlah deviden. Supaya bisa tetap impas, yakni harga maksimal diman kita harus menjual saham Merk tersebut adalah

7300 (harga beli pada penutupan bursa di hari cum date) - 2565 (deviden ) = 4735. Maka, minimal kita harus menjual pada harga tersebut agar tetap untung pada hari bursa setelah cum date. Namun apa yang terjadi? Tidak ada yang mau beli pada hari bursa setelah tanggal cum date Merk. Ini terjadi dua hari berturut-turut. Maka peritel yang sudah beli di harga atas tidak bisa menjual barangnya. Mereka terkunci.

Harga setelah dua hari bursa setelah Cum Date adalah 4680. Artinya, mereka yang mengejar deviden, tetap rugi. Dan, pada harga 4680 tersebut, bisa lebih turun lagi, karena tidak ada yang mau membeli pada harga tersebut. Inilah salah satu sebab mengapa kita harus jelas dalam membuat keputusan dalam suatu pasar saham. Apakah demi mengejar deviden, atau capital gain. Satu hal yang perlu kita ingat adalah adanya manipulasi pada pasar bursa.

Jika melihat pada contoh diatas, kita sepertinya, sudah harus tahu, bahwa sebelum pengumuman pembagian deviden pada tanggal 11 Desember, harga sudah dikerek naik hingga mencapai 50%.

Tidak ada untung yang bisa begitu mudah didapat di pasar modal. Semua membutuhkan usaha dan juga waktu. Jadi, hal pertama yang harus kita camkan baik-baik ketika membeli saham adalah apakah kita membeli demi mengejar capital gain ataukah deviden.

Sunday, December 23, 2018

Seri Investasi (17): Sekolah Pasar Modal

Sobat Net, kita telah membahas tuntas mengenai reksadana. Rangkuman posting-posting mengenai reksadana di blog ini bisa dilihat melalui tautan berikut. Beberapa rekan-rekan, setelah terjun ke dalam dunia investasi reksadana, diantaranya ada yang ingin terjun langsung ke dalam dunia pasar modal. Mereka beranggapan bahwa, reksadana saham khususnya, kurang memberikan keuntungan yang maksimal, jika dibandingkan dengan membeli saham secara langsung. Sayangnya, mereka masih kurang mengetahui tentang dunia pasar modal. Tulisan kali ini, kita akan diajak untuk berkenalan dengan dunia pasar modal.      

Salah satu cara untuk mengenalkan dunia pasar modal adalah dengan mengikuti Sekolah Pasar Modal. Sekolah Pasar Modal ini adalah bentuk sosialiasi yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan melibatkan broker yang merupakan anggota dari BEI. Perlu diketahui, kita tidak bisa membeli langsung saham di BEI, namun harus melalui perantara (broker) yakni perusahaan sekuritas. Untuk pendaftaran Sekolah Pasar Modal sendiri, bisa dilihat melalui situs berikut. 

Ada dua jenis kelas yang ditawarkan, online maupun tatap muka. Dan, ada dua level pengajaran yang dilakukan, level satu dan level dua:
- Level Satu: Menjelaskan mengenai investasi dan mekanisme dalam dunia pasar modal  
- Level Dua: Menjelaskan mengenai analisa fundamental dan teknikal yang digunakan sebagai dasar untuk membeli suatu saham perusahaan

Level satu diperuntukkan untuk pemula yang sebaiknya belum pernah mendaftar di sekuritas. Pada level satu, selain materi, para peserta juga didaftarkan ke dalam suatu sekuritas yang menjadi pengisi pada waktu tersebut. Biaya uang pendaftaran 100 ribu (Agustus, 2018) yang dikeluarkan oleh peserta, akan dikembalikan ke dalam rekening dana investor (RDI) di bawah sekuritas yang dimaksud. Jadi, selesai acara, Sobat Net tinggal menunggu RDI selesai untuk kemudian bisa melakukan aktivitas jual-beli saham.

Target Sekolah Pasar Modal ini memang merupakan masyarakat yang belum mengenal dunia pasar modal. Istilah yang sering digunakan adalah investor ritel. Tentu saja, bagi Sobat Net, yang ingin mengenal dunia pasar modal bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk terjun langsung di dunia pasar modal. Tinggal mendaftar saja di situs sekolah pasar modal diatas.

Tentu saja, akan banyak sekali hal yang harus dipelajari di dunia saham sebelum akhirnya Sobat Net bisa benar-benar mengetahui cara ber-trading maupun investasi yang benar di dunia pasar modal. Namun, di dunia dimana informasi mudah didapat seperti sekarang ini, saya kira segala sesuatu menjadi gampang untuk dipelajari. 

Untuk Sobat Net yang penasaran dengan materi presentasi Sekolah Pasar Modal, bisa dilihat pada tautan dibawah:

Demikian tulisan ini dibuat. Sobat Net bisa melayangkan komentar melalui kotak dibawah untuk menanyakan lebih jauh mengenai topik yang dibahas diatas.  

Popular Posts