Tuesday, October 9, 2018

Seri Investasi (8): Fintech Deposito

Sobat Net, kita telah membahas mengenai deposito pada tulisan terdahulu. Kali ini, saatnya kita akan membahas mengenai fintech dimana kita bisa berinvestasi melalui deposito. 

Digital Banking
Deposito adalah produk perbankan. Oleh karena itu, kita cari fintech yang merupakan produk dari perbankan. Di Indonesia sendiri, ada beberapa fintech yang merupakan produk perbankan. Beberapa diantaranya yang penulis ketahui adalah Digibank oleh Bank DBS, Jenius oleh Bank BPTN dan juga PermataMobile X oleh Bank Permata.   

Aplikasi fintech mobile tersebut merupakan platform digital banking yang menerapkan kegiatan perbankan tanpa perlu kita sendiri harus repot-repot pergi ke Bank. Tentu saja, fintech mobile banking ini merupakan evolusi daripada internet banking maupun mobile banking yang sudah ada. 

Penulis akan memberi contoh penggunaan salah satu fintech yang disebutkan diatas, yang dalam hal ini penulis merupakan user dari salah satu fintech tersebut, yaitu Jenius. Untuk pendaftaran, dilakukan secara online, verifikasi bisa dilakukan dengan tatap muka di tempat yang telah kita tentukan sebelumnya ataupun ke Bank, jika kita berada di daerah. Tidak ada rekening koran, adapun saldo keluar masuk semua tercatat di aplikasi. Semuanya dilakukan serba online. Jika diperlukan, kita bisa men-download laporan arus keluar-masuk berbentuk dokumen pdf langsung dari aplikasi. Fitur-fiturnya beraneka macam dan Sobat Net bisa melihatnya disini.

Tentu saja, fokus tulisan kita adalah untuk berinvestasi deposito dengan fintech. Fintech perbankan yang telah disebutkan diatas bisa dipilih dengan terlebih dahulu melakukan penelitian mengenai aplikasi yang paling cocok untuk Sobat NET. Pahami juga reputasi aplikasi tersebut selama ini.

Satu hal yang perlu untuk diingat, ketika berinvestasi melalui deposito, pastikan berapa bunga deposito yang diberikan yang berkaitan dengan tenor dan deposit minimal. Mari lihat data bunga deposito yang diterbitkan oleh beberapa Bank yang ada di Indonesia melalui link berikut

Deposito Bank
Sesuai dengan data tersebut, yang diambil October 2018, bisa dilihat rata-rata deposito yang diberikan oleh Bank adalah 6%, dan naik menjadi 6.2% untuk tenor tiga bulan. Maka, tugas kita adalah mencari fintech perbankan yang menghasilkan bunga deposito diatas rata-rata, sesuai dengan minimum deposit dan waktu tenor yang cocok untuk kita. 

Untuk jenius, deposito dengan minimum deposit 10 juta, bunganya sebesar 6.25%, sedangkan untuk 100 juta, bunganya sebesar 6.5%. Bisa dilihat disini. Untuk digibank lebih bervariasi, antara 5.5%- 6.25 %, yang bisa dilihat disini

Nilai bunga diatas biasanya nilai kotor yang belum dipotong pajak sebesar 20% dan merupakan nilai bunga pertahun. Namun, dengan tulisan kali ini, saya harapkan para Sobat Net sudah mencoba untuk beralih dengan menggunakan fintech perbankan karena fasilitas yang ditawarkan sangatlah mempermudah urusan dalam hal keuangan. Belum lagi, jika ada promo bermacam-mcam yang ditawarkan. Tentu akan bisa menghemat pengeluaran kita.

Demikian tulisan kali ini dibuat. Untuk bagian selanjutnya, akan dibahas mengenai fintech reksadana.

Keep Stay Tuned  

Sunday, October 7, 2018

Seri Investasi (7): Peer to Peer Lending

Sobat Net, kita telah membahas berbagai macam investasi, mulai dari deposito, Surat Berharga Negara dan juga reksadana. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai peer-to-peer lending. Peer-to-peer lending merupakan sebuah jenis investasi yang saat ini sedang booming karena didukung oleh munculnya start-up fintech yang mengusung platform dengan konsep ini. Contohnya adalah investree. Penulis memberi contoh platform investree dikarenakan ia pernah menjadi salah satu mitra distribusi pemerintah dalam rangka pembelian Surat Berharga Negara seri 004. Reputasi itu sangat penting dalam dunia peer-to-peer lending dalam hal menjamin kepercayaan calon nasabah.
Skematik Peer to Peer Lending 
Peer-to-peer lending adalah platform yang memfasilitasi bertemunya peminjam dan pemberi pinjaman secara online dimana satu pinjaman bisa ditanggung secara patungan dari beberapa pemberi pinjaman untuk meminimalisir resiko. Pemilik platform selain bertugas sebagai fasilitator, juga memberikan analisa terhadap profil peminjam, memberikan grade pinjaman dan menentukan bunga pinjaman untuk memberi tahu para pemberi pinjaman akan resiko pinjaman, serta melakukan upaya penagihan ketika jatuh tempo. 

Dari uraian diatas, tentu mengetahui reputasi sebuah online peer-to-peer lending menjadi sangat penting. Meskipun reputasinya saat ini bagus, belum tentu juga berlaku di masa depan. Salah satu hal pertama yang perlu diperhatikan adalah memastikan bahwa platform peer-to-peer lending yang kita pilih haruslah sudah terdaftar di OJK.

Berinvestasi di peer-to-peer lending menarik karena memiliki suku bunga pengembalian cukup tinggi hingga 20% pertahun, namun juga beresiko tinggi. Resiko yang mungkin timbul adalah uang investasi kita tidak balik karena bisnis bangkrut/ pailit atau fraud yang dilakukan peminjam, misalkan peminjam memberikan data palsu dan/ atau kabur setelah menerima pinjaman. Atau, ketika pemilik platform sendirilah yang melakukan penipuan. Kasus seperti ini pernah terjadi.

Untuk mengatasi hal tersebut, maka beberapa hal yang bisa dilakukan:
1. Cari peer-to-peer lending yang sudah terdaftar di OJK.
2. Berinvestasi dalam jumlah kecil, dimana kita tidak merasa begitu kehilangan ketika uang investasi kita hilang. Misal, investasi dengan 1-5% dari dana yang kita punya
3. Cari profil peminjam dengan grade resiko rendah.
4. Cari pinjaman dengan jatuh tempo yang singkat. Semakin lama waktu pinjaman, semakin beresiko. Hal ini dikenal dengan resiko maturitas.
5. Diversifikasi pinjaman. Jumlah kecil, namun pinjaman merata ke lebih dari satu pinjaman.

Investree
Hal lain yang juga penting adalah jangan memberikan pinjaman jika tidak yakin. Masih banyak jenis investasi lain. Kunci daripada investasi adalah mengetahui resiko terlebih dahulu, sebelum melihat reward yang dijanjikan. Jika kita sanggup menampung resikonya, maka selanjutnya kita harus yakin dan menjalankan plan yang telah dibuat. Hingga saat tulisan ini dibuat, penulis masih memakai platform peer-to-peer lending investree.

Selain peer-to-peer lending, ada jenis investasi lain yang belum pernah dibahas, yakni emas, properti dan juga saham. Investasi emas dan properti memerlukan modal yang tidak sedikit. Emas sebenarnya tipe investasi yang bagus sebagai lindung nilai. Harganya akan naik ketika terjadi krisis karena nilai emas sebenarnya stabil. Hal ini dikarenakan emas merupakan komoditas yang diperdagangkan di seluruh dunia.  Untuk properti, karena penulis belum pernah berinvestasi di bidang tersebut, jadi tidak ada komentar penulis terhadap investasi di sektor properti. Untuk saham, sebenernya saham lebih baik jika dibuat trading, atau istilahnya dagang saham. Faktor volatilitas nilai saham yang naik-turun, menurut saya tidak cocok untuk dijadikan investasi jangka panjang. Meskipun demikian, tidak ada larangan bagi Sobat Net yang ingin berinvestasi lewat saham, atau istilahnya nabung saham.

Sekian dari penulis, pada "Seri Investasi" selanjutnya akan dibahas mengenai fintech-fintech yang bisa digunakan untuk berinvestasi sesuai dengan jenis investasi yang pernah dibahas di blog ini.

Keep Stay Tuned  

Seri Investasi (6): Reksadana Bagian Tiga

Sobat Net, pada kesempatan kali ini, kita akan membedah sebuah produk reksadana dalam hal untuk belajar mengenai informasi apa saja yang wajib diketahui dalam sebuah reksadana. Reksadana yang akan dikupas adalah reksadana saham "Simas Syariah Unggulan". Dari namanya, Sobat Net bisa mengetahui bahwa reksadana ini diterbitkan oleh Manager Investasi "Sinarmas" dan berjenis "Syariah".

Data mengenai reksadana ini penulis ambil dari situs bareksa.com. Sobat Net yang ingin melakukan konfirmasi, bisa langsung mengecek situs tersebut.


Data pertama yang akan dibahas adalah NAB/Unit versus tanggal. NAB adalah jumlah total keseluruhan dana yang dimiliki dalam sebuah produk reksadana. Unit sendiri merupakan jumlah banyaknya unit yang dimiliki oleh sebuah reksadana. NAB/Unit awal untuk sebuah reksadana yang baru diluncurkan bernilai 1000 rupiah. Seiring berjalannya waktu, NAB/Unit akan mengalami perubahan karena proses investasi.

Perhitungan Untung/ Rugi dalam Reksadana
Jika pada awal mulanya kita membeli 100 unit dengan harga NAB/Unit 1000 rupiah. Seiring berjalannya waktu, nilai NAB/Unit mengalami kenaikan menjadi NAB/Unit 1200 rupiah. Maka ketika kita menjual reksadana tersebut, kita mendapatkan keuntungan (1200-1000)*100 = 20.000. Modal yang kita keluarkan 1000*100 = 100.000 rupiah. Maka, returnnya adalah sebesar 20%. Sesuai dengan grafik diatas, hal ini mungkin dilakukan jika kita membeli reksadana tersebut pada Maret 2018 dan menjualnya pada Juni 2018. Hanya dalam waktu tiga bulan, kita bisa mendapatkan return investasi sebenar 20%. Bandingkan dengan deposito dimana return tertinggi, anggap saja adalah 6% dan itupun pertahun. Tentu saja, cerita yang berbeda akan kita dapatkan, jika kita membeli reksadana ini pada Juni 2018 dan menjualnya pada Juli 2018.Yang didapatkan malah rugi karena nilai NAB/Unit telah turun dari nilai semula (sekitar -10%)

Ilustrasi seperti diatas, seolah ingin menggambarkan pada kita semua mengenai sebuah situasi yang mungkin bisa kita alami ketika berinvestasi dalam sebuah reksadana. Tentu saja sangat mudah menghitung hal yang sudah terjadi, namun jika berhadapan pada hal yang belum terjadi pada masa yang akan datang adalah jelas sesuatu yang berbeda. Karena ciri khas reksadana saham yang naik-turun inilah, maka reksadana ini dikategorikan reksadana yang cukup beresiko, meskipun didukung return yang sangat tinggi.

Pemahaman mengenai grafik reksadana ini sangat penting karena menjelaskan mengenai risk-reward dalam sebuah produk reksadana. Perbandingan antara keempat jenis reksadana telah dibahas pada tulisan sebelumnya. Pahami grafik sebuah reksadana sebelum Sobat Net memutuskan untuk masuk ke dalam produk reksadana. Reksadana saham sangat erat kaitannya dengan dunia pasar modal. Sedangkan, reksadana pasar uang terkait dengan kebijakan pemerintah seperti penetapan suku bunga acuan karena salah satu instrumen investasinya adalah deposito.

Saran dari penulis, memilih reksadana harus mulai dari yang resiko rendah terlebih dahulu, mulai dari reksadana pasar uang. Jika sudah memahami cara kerjanya, boleh tambah porsi reksadana tersebut sembari belajar untuk naik kelas ke jenis reksadana yang lebih beresiko. Tidak masalah langsung loncat ke reksadana saham karena antara pendapatan tetap, campuran dan saham memiliki profil grafik yang mirip, meskipun dengan tingkat naik-turun yang berbeda. Hal ini bisa terjadi karena ketiga reksadana ini memang diperdagangkan di pasar modal. Oleh sebab itu, pahami kondisi pasar, apakah trendnya sedang naik, turun atau sideways. Hal ini dikarenakan jika masuk ke dalam ketiga reksadana ini, kita tidak bisa beli-jual dalam tempo singkat karena adanya biaya beli dan jual.

Inilah mungkin salah satu yang menyebabkan orang lebih suka untuk terjun langsung ke dunia saham, terutama ketika pasar sideways, selain daripada jika fokus MI hanya mengejar untuk mengalahkan benchmark, bukan untuk menarik keuntungan sebesar-besarnya. Bayangkan jika benchmark negatif, maka nilai investasi kita bisa juga negatif. Hal ini bisa dilihat pada grafik indeks pada tulisan sebelumnya.


Grafik kedua, menjelaskan mengenai Asset Under Management (AUM) dan juga jumlah unit. AUM ini sama dengan jumlah dana kelolaan. Jika AUM dibagi dengan Unit, maka ketemu nilai NAB/Unit. Jumlah AUM ini adalah sebuah indikator penting dalam sebuah reksadana. Reksadana yang memiliki AUM yang besar secara tidak langsung menunjukkan produk reksadana tersebut jauh dari kondisi pailit.    

Untuk memahami, isi daripada portofolio yang dimiliki oleh sebuah produk reksadana, maka MI membuat dokumen yang disebut "Fund Factsheet" agar para investor mengetahui alokasi investasi mana saja yang terdapat dalam sebuah reksadana. Untuk reksadana diatas, "Fund Factsheet" nya bisa didownload disini. Bisa dilihat, beberapa informasi penting yang dikupas oleh fund factsheet reksadana "Simas Syariah Unggulan", meliputi biaya beli dan jual reksadana, jenis saham apa saja yang dipegang reksadana tersebut dan bagaimana returnnya jika dibandingkan dengan benchmark. Biasanya fund factsheet ini dibuat bulanan. Selain fund factsheet, juga ada dokumen yang disebut prospectus untuk melihat informasi mengenai reksadana ini dengan lebih terperinci. 

Demikian penjelasan mengenai elemen-elemen dalam sebuah reksadana. Mudah-mudahan para pemula reksadana bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam memulai investasi reksadana. 

Pada bagian selanjutnya, akan dibahas mengenai investasi yang lebih beresiko lagi yang saat ini masih booming, yakni investasi berjenis p2p lending.

Keep Stay Tuned   

Friday, October 5, 2018

Seri Investasi (5): Reksadana Bagian Dua

Sobat Net, kita akan masih mengupas lebih dalam lagi mengenai reksadana. Kenapa? 

1. Reksadana merupakan investasi yang bisa dilakukan dengan nominal yang paling minim jika dibandingkan dengan jenis investasi lainnya. Tercatat, minimum pembelian reksadana di Tokopedia bisa dilakukan dengan nominal 10 ribu rupiah.
2. Bagi Sobat Net, yang takut akan riba, jenis investasi reksadana juga menawarkan reksadana yang berjenis syariah.
3. Memiliki jenis resiko yang bervariasi, sesuai dengan jenis risk appetide yang kita inginkan.

Beli RD di Tokopedia Minimal 10ribu rupiah
Mari kita bahas terlebih dahulu mengenai profil resiko yang dimiliki oleh empat jenis tipe daripada reksadana. Masing-masing adalah reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran dan juga saham yang diwakili oleh indeksnya melalui grafik dibawah. Indeks adalah nilai rata-rata jika semua reksadana dengan jenis yang sama dikumpulkan menjadi satu dan dirata-rata. Indeks ini biasa juga disebut dengan benchmark.
Indeks Reksadana di Bareksa
Jika Sobat Net berencana untuk masuk ke dalam reksadana, hal pertama yang harus Sobat Net kuasai adalah cara membaca grafik. Dari berbagai macam reksadana yang ditawarkan, tugas kita adalah mencari reksadana yang menghasilkan return lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai indeks. 

Dari gambar diatas, bisa diketahui bahwa indeks reksadana pasar uang merupakan jenis reksadana paling stabil jika dibandingkan tiga indeks reksadana lainnya. Meskipun demikian, hasil returnnya masih kalah jika dibandingkan indeks lainnya. Berturut-turut yang bisa menghasilkan return lebih tinggi adalah pendapatan tetap, campuran dan saham. Ketiga jenis reksadana tersebut bisa menunjukkan gejala naik turun karena memang jenis investasi yang digunakan diperdagangkan di pasar modal. Sehingga naik-turunnya merupakan akibat dari kegiatan supply-demand yang dilakukan di pasar modal. Jika demikian, maka timing untuk masuk ke dalam reksadana tersebut sangatlah penting.

Bayangkan, jika anda membeli reksadana pada bulan October 2017 dan menjualnya pada februari 2018. Maka, masing-masing reksadana yang menghasilkan dari yang paling rendah hingga paling tinggi:
Pasar Uang < Pendapatan Tetap < Campuran < Saham.

Lain lagi, jika Sobat Net, menjualnya pada Agustus 2018, maka urutannya menjadi: 
Pendapatan Tetap < Campuran < Saham < Pasar Uang.

Untuk pemula, maka Reksadana Pasar Uang adalah pilihan yang menarik untuk memulai berinvestasi. Rata-rata nilainya stabil naik terus, meskipun tidak sekencang jenis reksadana lainnya. Dan, yang lebih penting lagi adalah nilainya meskipun kecil tetapi lebih besar jika dibandingkan dengan deposito dan tanpa pajak. Jika sudah memahami mengenai kondisi pasar modal, maka pilihan untuk masuk ke jenis reksadana lainnya mulai bisa dipertimbangkan.     

Pada bagian selanjutnya, akan kita bahas mengenai elemen-elemen dalam reksadana yang patut untuk dipahami.

Keep Stay Tuned  

Thursday, October 4, 2018

Seri Investasi (4): Reksadana Bagian Satu

Sobat Net, setelah membahas mengenai deposito dan juga Surat Berharga Negara, pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai Reksadana. Reksadana dalam bahasa Inggris disebut sebagai "Mutual Fund". Silahkan lihat gambar dibawah ini yang menjelaskan mengenai pengertian dari Reksadana
Sesuai dengan gambar diatas, maka berinvestasi melalui reksadana, prinsip sederhananya adalah kita menitipkan sejumlah uang kepada orang atau badan yang dalam hal ini disebut sebagai Manager Investasi (MI). Dimana, manager ini akan mengelola investasi kita dengan cara mengalokasikannya ke dalam berbagai macam instrumen keuangan. Daftar instrument keuangan yang menjadi pos alokasi untuk investasi biasa disebut sebagai portofolio efek

Portofolio efek tiap MI reksadana biasanya dibedakan dalam berbagai macam, tergantung daripada tingkat resikonya. Hal ini akan melahirkan produk reksadana yang berbeda-beda. Jadi, biasanya satu MI akan memiliki produk reksadana lebih daripada satu macam, yang dapat dikategorikan seperti dibawah ini:

1. Reksadana Pasar Uang: Jika portofolio efeknya didominasi oleh deposito dan obligasi dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun.
2. Reksadana Pendapatan Tetep: Jika portofolio efeknya didominasi oleh obligasi. Jangan terkecoh dengan istilah pendapatan tetap karena belum tentu hasil returnnya akan selalu tetap. Ini hanya untuk menunjukkan bahwa mayoritas portofolionya adalah obligasi.
3. Reksadana Campuran: Jika portofolionya berisi campuran antara saham dengan instrument investasi lainnya.
4. Reksadana Saham: Sesuai dengan namanya, portofolio efeknya didominasi oleh saham.
Perlu diketahui, semakin kebawah, tingkat resikonya makin tinggi, namun tingkat pengembaliannya juga makin tinggi

Meskipun Reksadana Pasar Uang berisi deposito, namun pengembaliannya seharusnya akan lebih besar daripada deposito yang didapatkan jika kita menabung sendiri di Bank. Hal ini dikarenakan, MI memiliki jumlah dana kelolaan lebih besar yang memungkinkan mereka untuk bisa mendapatkan suku bunga yang lebih baik, jika dibandingkan dengan investor perseorangan. Selain itu, di reksadana pasar uang, para nasabah yang biasa disebut sebagai pemegang unit penyertaan tidak dikenakan pajak

Membeli Reksadana, bisa langsung melalui manager investasi atau agen perantara pedagang efek reksadana (APERD). Keunggulan dengan menggunakan APERD adalah ada berbagai jenis macam pilihan produk reksadana dari berbagai macam MI yang bisa kita pilih. Memilih produk reksadana merupakan sesuatu hal yang penting karena reksadana merupakan investasi yang memiliki resiko lebih tinggi jika dibandingkan investasi melalui deposito ataupun SBN. 

Bayangkan ilustrasi sebagai berikut:

Anda menitipkan uang pada seseorang untuk dikelola dalam sebuah investasi. Jika investasinya bagus, anda akan mendapatkan laba. Namun, laba itu tidak akan bisa langsung anda dapatkan sebelum anda menarik uang investasi tersebut. Dan, sebaliknya, jika investasinya jelek, anda rugi. Namun, anda belum rugi secara langsung, sebelum anda menariknya. Inilah yang disebut dengan istilah floating loss/gain. Dalam investasi reksadana, untung/ rugi tidak secara langsung akan anda terima setelah membeli reksadana. Namun, untung/ rugi hanya akan anda dapatkan ketika menjual reksadana tersebut. Dalam artian, selama kita menahan reksadana, keuntungan atau kerugian akibat perubahan harga reksadana akan bersifat mengembang atau mengempis. 

Produk Reksadana tidak dijamin oleh pemerintah. Artinya, jika anda rugi, maka uang anda hilang. Maka, tentu saja berinvestasi reksadana butuh perencanaan. Selain itu, jika sebelumnya kita awam akan jenis investasi ini, maka waktu harus kita sediakan untuk belajar mengenai istilah-istilah dalam reksadana. 

Pada bagian selanjutnya, kita akan belajar lebih jauh lagi mengenai reksadana.

Keep Stay Tuned

Saturday, September 29, 2018

Seri Investasi (2): Deposito

Sobat NET, ada berbagai macam tipe-tipe investasi. Semuanya memiliki prinsip yang sama, yakni high risk, high return dan sebaliknya. Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai jenis investasi yang dengan tingkat resiko yang sangat rendah, yakni deposito.

Deposito merupakan salah satu fitur yang dimiliki oleh Bank, dimana nasabah harus menyetor sejumlah uang dan menyimpannya selama waktu yang telah ditentukan sebelumnya, dalam hal ini disebut dengan tenor. Biasanya dalam hitungan bulan. Jika nasabah mengambil simpanan deposito tersebut sebelum jatuh tempo, maka nasabah akan memperoleh pinalti. Biasanya, pinalti ini bisa berupa bunga simpanan deposito menjadi hangus. 

Deposito ini low risk karena dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan memiliki tingkat suku bunga yang lebih tinggi daripada tabungan. Untuk mengetahui tingkat suku bunga pada Bank-Bank yang ada di Indonesia, bisa dilihat pada link berikut.

Darimana Bank-Bank tersebut memberikan besaran nilai suku bunga untuk deposito? Salah satunya adalah berdasar kebijakan pemerintah Indonesia melalui suku bunga acuan. Ini adalah salah satu langkah untuk mengontrol tingkat pertumbuhan ekonomi. Lebih jauh lagi, akan kita temukan salah satu istilah yang sering dikaitkan dengan keadaan ekonomi suatu negara, yakni "inflasi".

Inflasi adalah menurunnya tingkat mata uang atau naiknya harga barang. Jika pada tahun 2008, misalkan, dengan uang 10 ribu kita bisa mendapatkan 1 kg telur. Maka, jika terjadi inflasi pada tahun selanjutnya, dengan jumlah uang yang sama kita hanya mendapatkan jumlah telur yang lebih sedikit.

Inflasi ini menurut penulis sangatlah berkaitan dengan deposito. Mari kita lihat gambar dibawah:


Pada gambar diatas, terlihat pertumbuhan dari bermacam jenis investasi beserta tabel inflasi dari Badan Pusat Statistik mulai dari tahun 2006 hingga 2016. Untuk deposito bisa diketahui bahwa nilai rata-rata pertumbuhannya pertahun adalah sebesar 6.91%. Sebagaimana diketahui, deposito memiliki pajak penghasilan sebesar 20%. Maka nilai bersih dari pertumbuhan investasi deposito adalah sebesar 5.528%. Hal ini masih lebih rendah dari tingkat inflasi.

Kita juga bisa mengambil contoh yang lain, misalnya data Inflasi vs Suku Bunga yang ada di Amerika, melalui gambar dibawah:

  
Bisa diketahui, laju inflasi di Amerika, meskipun naik-turun, namun pada banyak waktu selalu berada diatas dari suku bunga FED.

Maka, sangatlah aman untuk kita bilang, bahwa uang kita sebenarnya tidak tumbuh meskipun kita simpan dalam bentuk deposito karena bisa jadi termakan oleh inflasi. Hal ini bisa terjadi, karena pemerintah menginginkan kita agar bisa menghabiskan uang lebih banyak lagi agar pertumbuhan ekonomi terus terjaga. Jika pertumbuhan ekonomi selalu positif, maka pemerintah bisa membayar utang yang dipinjam atau bisa menarik minat investor untuk turut berinvestasi. Inilah bisa dikatakan salah satu tujuan agar bunga deposito nilainya selalu lebih rendah daripada tingkat inflasi  

Pada bagian selanjutnya, akan dibahas jenis investasi lain dengan rate bunga yang lebih tinggi daripada deposito yakni reksadana.

Keep Stay Tuned

Tuesday, September 4, 2018

Seri Investasi (1): Fintech dan Kemudahan Investasi dengan Budget Kecil

Sobat NET, kemajuan dalam bidang teknologi tak pelak memiliki pengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan, khususnya yang akan dibahas dalam blog ini adalah dalam bidang finansial. Ketika perusahaan Start-Up yang mengandalkan teknologi bermunculan, kita mengenal satu industri baru yang dikenal dengan fintech. 

Ilustrasi Fintech
Fintech merupakan kepanjangan financial technology. Artinya, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan yang mengandalkan teknologi. Secara umum, mereka menggunakan platform aplikasi Smartphone yang bisa diakses oleh setiap orang. Berbeda dengan MarketPlace, dimana perusahaan ini bergerak dalam bidang jual-beli barang ataupun jasa secara online, fintech layaknya sebuah Bank, mereka bisa melakukan berbagai macam aktivitas finansial. seperti menabung, menerbitkan alat pembayaran berbentuk e-wallet, memberikan fasilitas kredit, berinvestasi dan lain sebagainya. Tentu semua itu bisa dilakukan secara online, kapan saja dan dimana saja. Hal inilah yang membedakannya dengan finansial service seperti Bank, yang sifatnya masih tradisional. Meskipun demikian, Bank-Bank konvensional pun, juga tak mau kalah, dengan meluncurkan berbagai macam aplikasi untuk ikut bersaing dengan fintech ataupun malah menjalin kerjasama.

OJK sebagai pengawas Fintech
Sudah banyak sekali fintech yang ada di Indonesia. Fintech-fintech yang tergabung dalam asosiasi fintech Indonesia bisa diakses disini. Untuk menjamin keamanan dalam bertransaksi, maka pastikan fintech yang kita ikuti terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini untuk menghindari dana yang kita setorkan disalahgunakan oleh pihak ketiga.

Perlu diketahui, antara satu fintech dengan fintech yang lainnya bisa menawarkan layanan yang berbeda. Contohnya: ada yang khusus menawarkan investasi saja, ada yang menyediakan alat pembayaran e-wallet, maupun fintech yang cuma memberikan layanan berupa pinjaman. 

Pada blog kita ini, Sobat NET akan saya ajak untuk mendalami fintech-fintech yang bisa digunakan untuk berinvestasi. Kelebihannya adalah dengan menggunakan fintech, investasi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Selain itu, bisa dilakukan dengan dana yang relatif terbatas. Tentu saja, semua ini merupakan dampak daripada perkembangan teknologi. 

Kita akan bahas lebih lanjut lagi mengenai fintech ini dalam "Seri Investasi" di posting berikutnya.

Popular Posts