Tuesday, September 29, 2020

(Tidak Pernah) Kapok Main Saham Gorengan

Goreng Saham

Mendengar kata "saham gorengan", apa yang terlintas di pikiran anda? Disukai ataupun tidak, pasar berjalan sesuai dengan kaidah supply and demand. Saham gorengan ada karena ada demandnya. Costumer yang menyukai high gain/risk akan cenderung menyukai saham gorengan. Kita berinvestasi di pasar modal, tentunya ingin mendapatkan return yang besar dan juga cepat. Dan, "saham gorengan" merupakan salah satu bentuk supply untuk menjawab jenis demand yang ada tersebut. 


Jika secara prinsip, orang tidak menyukai saham gorengan, maka saham gorengan tidak akan banyak diperbincangkan. Supply pun akan turun secara sendirinya 

Saham gorengan ini gerakannya liar, kacau, tidak bisa ditebak. Saham yang tidur, dalam hitungan menit bisa langsung lompat kodok mencapai target ARA pada hari itu. Bisa jadi juga, saham yang tadinya ARA, pada waktu menjelang penutupan, dihajar hingga ARB.

Saham gorengan tidak untuk semua orang. Seperti dijelaskan pada paragraf pertama, saham gorengan ini ada karena permintaan terhadap saham ini ada. Jika banyak yang meminta saham dengan fundamental yang bagus, tentunya permintaan terhadap saham gorengan akan menurun. Namun tentunya hal ini akan sangat sulit untuk dilakukan karena orang terjun ke pasar modal tentunya ingin mendapatkan gain semaksimal mungkin. 

Ketika terjun ke pasar modal, kita harus bersikap realistis. Semua yang masuk ke pasar modal pasti pernah merasakan untung ataupun rugi. Apapun hasilnya itu adalah bukti bahwa kita telah mencoba. Jikapun rugi, berarti ada sesuatu yang perlu diperbaiki dari metode trading kita. Pergerakan harga saham di pasar modal bukanlah sesuatu yang bisa kita kontrol. Tetapi, tidak semua orang bisa menerima kenyataan bahwa mereka telah "rugi" tersebut secara realistis. 

Tidak semua orang bisa lepas dari bayangan kejadian loss yang terjadi pada masa lampau. Hal inilah yang menjadi beban ketika akan memulai trading selanjutnya. Kita menjadi sangat berat untuk mencoba kembali masuk di pasar modal. Kegagalan masa lalu telah menghapus rasa kepercayaan diri kita dan menjadi limiting belief bahwa kita tidak mampu sukses di pasar modal. Jika hal ini terjadi, seberapa banyak teori yang kita gunakan, akan menjadi percuma karena kita tidak memiliki keberanian untuk mengaplikasikannya. Malah, semakin banyak teori, bisa jadi semakin menimbulkan keraguan.

Barangkali, anda pernah loss pada saham gorengan. Anda salahkan saham gorengan, bukan karena metode trading anda di saham gorengan. Padahal, sudah jelas, high reward-high risk. Eksekusi di saham gorengan harus cepat karena gerakannya liar, kacau, tidak bisa diprediksi. Anda membenci saham gorengan karena pernah rugi, dikecewakan. Bukan dari hal yang bersifat prinsip ataupun karena metode yang anda terapkan kurang cocok.

Masuk ke pasar modal dan berharap return yang besar itu tidak salah. Tetapi, jika memulai dari dasar dan ingin langsung berada di puncak dengan meraih gain setinggi-tingginya, maka itu adalah sesuatu hal yang sangat sulit. Perlu dorongan yang besar dan kebanyakan berakhir dengan tidak menyenangkan. Maka dari itu, harus dimulai dari hal yang bersifat kecil. Hal yang biasa lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Dari yang biasa, bisa nanti kita jadikan yang luar biasa. 

Jadi, kitalah yang menjadikan hal yang luar biasa tersebut. Tidak peduli sebanyak apapun modal kita, jika kita tidak mampu mengelolanya maka akan habis pula. Masuk ke saham gorengan karena ingin cepat kaya, tanpa mempelajari risk-reward dengan baik, pada akhirnya hanya akan membawa kerugian.

PS: Tidak usah masuk saham gorengan.

Sunday, September 27, 2020

Atur Ulang Sikap dengan Lebih Baik Ketika Nyangkut di Saham

Ketika kita nyangkut di saham, otomatis menggambarkan bahwa analisa kita salah terhadap prediksi saham tersebut di masa depan. Mimin kasih contoh saham $TLKM.   

Konsolidasi saham $TLKM

19 Juli 2020, prediksi mengenai harga $TLKM telah mimin buat. Jika dilihat dari pembentukan harga ketika itu, $TLKM memiliki pola descending triangle. Emiten ini berada dalam fase konsolidasi atau antisipasi. Harga $TLKM ketika itu masih di 3060. 

Hal yang menarik adalah poling dari prediksi tersebut menunjukkan hampir 50:50. 54% berharap harga $TLKM turun, sedangkan 46% berharap harga $TLKM naik. Sebagian besar waktu, market akan berada dalam fase konsolidasi. Perbandingannya antara 70% berada dalam fase konsolidasi dan 30% berada dalam fase tren. 

Mengambil posisi pada waktu konsolidasi dianggap lebih baik karena ketika lompat ke atas, maka akan mendapatkan gain yang tinggi dan menghindari false break-out ketika saham naik, apalagi di pasar yang sedang tren turun. 

Nah, persoalannya adalah ketika prediksi kita salah. Ternyata saham malah turun. Per-hari ini (27 Sept 2020), harga $TLKM sudah menyentuh angka di bawah 2700 per lembar saham. 

Bagaimana mengatur ulang sikap anda ketika nyangkut di sebuah saham? Hal ini harus sobat lakukan karena anda sudah salah dalam menganalisa pergerakan harga.

Friday, September 25, 2020

Wyckoff Method - Akumulasi

Pada bahasan sebelumnya, mimin telah jelaskan mengenai metode Wyckoff untuk menandai sebuah fase distribusi. Pada kesempatan kali ini, kita akan belajar mengenai metode Wyckoff untuk mengenali fase akumulasi.

Fase akumulasi adalah fase dimana terjadi proses pembelian yang dilakukan oleh market maker, relatif pada harga bawah, dimana pada akhir fase nanti akan mengakibatkan kenaikan harga. Mari lihat grafik dibawah untuk mengenali metode Wyckoff pada fase akumulasi. 
Metode Wyckoff - Anatomi Akumulasi

Pada grafik diatas dapat diketahui struktur anatomi akumulasi berdasarkan metode Wyckoff. Dapat diketahui bahwa ada lima fase untuk menentukan bahwa sebuah emiten masuk dalam fase akumulasi oleh market maker

Mari kita kupas satu-persatu anatomi fase akumulasi berdasarkan metode Wyckoff:

Fase A ==> Stopping Trend

Fase akumulasi dimulai dengan berakhirnya tren penurunan harga. Ditandai dengan terbentuknya preliminary support (PS) dan dilanjutkan dengan adanya selling climax (SC). Jika dilihat dari grafik, SC kadang ditunjukkan dengan spread yang lebar dan volume yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa ada ketertarikan dari market maker untuk menampung emiten tersebut. Ketika tekanan jual yang sangat tinggi telah terpenuhi, maka akan dilanjutkan dengan adanya automatic rally (AR), yakni masuknya demand ke dalam sebuah emiten dan dilanjutkan dengan secondary test (ST). ST bertujuan untuk mengecek tekanan jual dengan cara menurunkan harga pada titik sedikit di atas/ sama dengan SC.

Disini kita sudah bisa mulai menarik garis untuk menentukan trading range (TR).  

Pada fase re-akumulasi, yakni akumulasi yang terjadi pada fase up-trend, point PS, SC dan juga ST tidak seberapa kentara. Namun, adanya re-akumulasi masih bisa dilihat dari fase B-E dengan sedikit perbedaan, yakni durasi dan trading range (TR) yang pendek, jika dibandingkan dengan akumulasi yang terjadi pada fase downtrend. 

Fase B ==> Market Test (Anticipation)

Ketika sudah masuk ke dalam TR, market masuk ke dalam sebuah masa antisipasi. Harga mudah sekali berayun melebihi dari TR yang dibuat di fase A. Hal ini untuk mengecek adanya supply dan demand yang masih bersisa. Maka dari itu, fase ini memerlukan waktu yang lama untuk bisa menuju ke fase selanjutnya. Overall, terjadi proses net pembelian dari emiten tersebut. 

Fase C ==> Strength

Proses upswing dan downswing ini pada akhirnya akan mencapai titik kesetimbangan di dalam TR, dimana harga akan tertahan dengan spread yang tidak terlalu lebar. Untuk memvalidasi bahwa sebuah emiten siap untuk dimark-up ke harga yang lebih tinggi, maka harga akan dibawa ke support atau bahkan lebih dalam lagi untuk mengecek adanya supply tersisa. Orang bisa berpikir bahwa fase downtreand akan berlangsung kembali dan menjual emiten yang dia miliki. Namun, nyatanya, ini adalah tanda mulainya sebuah uptrend.  Inilah yang disebut sebagai "Shake-Out". Supaya berhasil, maka pada point ini harus disertai dengan volume yang kecil dan biasanya disertai spread yang juga pendek. Indikasi yang bagus bahwa market test ini berhasil adalah adanya sign of strength (SOS) yang terjadi setelah shake-out, yakni naiknya harga dengan spread dan volume yang relatif lebih tinggi.

Fase D ==> Market test (Begin of Uptrend) 

Paling kentara fase ini ditunjukkan dengan peristiwa "Break-out". Yakni, menembus TR dengan spread dan volume yang tinggi. Yang sebelumnya resistan akan menjadi support yang baru. Setelah "break-out", akan  terjadi market test lagi yakni harga akan pull back ke arah support yang baru tersebut. Ini bertujuan untuk mengecek reaksi market. Jika pada saat pull back volume dan spread mengecil. Maka uptrend akan mulai terjadi.

Fase E ==> Mark-up

Harga emiten naik dan market maker mendistribusikan barang yang ia miliki.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. Salam.

Sunday, April 12, 2020

Wyckoff Method - Distribusi

Pada kesempatan kali ini, mimin akan menerangkan metode Wyckoff untuk menjelaskan mengenai pola distribusi pada sebuah saham. Metode Wyckoff ini bertumpu pada analisa volume transaksi dan spread yang timbul dari transaksi tersebut. Maka dari itu, untuk bisa mempelajari anatomi distribusi dengan metode Wyckoff, Sobat Investor harus mengetahui terlebih dahulu mengenai volume spread analysis (VSA). 

Menurut metode Wyckoff, terdapat dua anatomi distribusi: 
1) Distribusi tanpa tipuan 
2) Distribusi dengan tipuan

1) Distribusi Tanpa Tipuan

Mari tengok schematic berikut:

Anatomi distribusi Wyckoff tanpa tipuan
Ada lima fase dalam anatomi distribusi tersebut: A hingga E. Terdapat juga beberapa macam istilah untuk menggambarkan tanda-tanda sebuah distribusi dimulai.Fase A hingga E merupakan tahap konsolidasi sebelum sebuah emiten kembali melanjutkan trendnya kembali, entah continue atau reversal. Fase A hingga E disebut sebagai trading range

Mari kita kupas beberapa istilah yang ada dalam fase tersebut:

Fase A ==> Stopping trend
- PSY (Preliminary Supply) ==> Titik awal dimana supply mengalahkan demand. Di titik ini timbul resistansi harga untuk beranjak naik.  
- BC (Buying Climax) ==> Titik puncak dimana terjadi overbought, yakni para bandar menjual secara besar-besaran saham yang mereka miliki. Sehingga harga saham kembali turun setelah rally.
- AR (Automatic Reaction) ==> Supply yang mengalahkan demand akan mencapai titik keseimbangan. Dimana, pada titik ini akan menjadi dasar dari trading range. Dilanjut, kenaikan sebagai reaksi untuk mengetest kembali apakah supply masih ada. Biasa kita sebut ada yang "take profit".

Fase B ==> Market test (end of uptrend)
- ST (Secondary test) ==> Reaksi market untuk mengetest area buying climax. Jika puncak telah terkonfirmasi, maka supply akan mengalahkan demand. Pada saat market melakukan test, volume dan spread akan menurun pada area test.

Fase C ==> Weakness
- SOW (Sign of Weakness) ==> Ketika reaksi untuk naik terkalahkan oleh gerakan menerobos support dari trading range. Pada gambar diatas, support digambarkan oleh garis bergelombang dan dianalogikan sebagai es (ICE). Jika es ditembus maka akan ada reaksi untuk naik. 
- LPSY (Last point of supply) ==> Jika es telah dijebol (note: support), maka akan terbentuk spread yang menipis yang menunjukkan market mengalami kesulitan untuk naik kembali. Volume yang ditunjukkan juga ringan. Pada LPSY inilah gelombang supply akan digelontorkan ke market sebelum masuk ke masa mark-down.

Fase D ==> Market Test (begin of downtrend)
Pada fase ini, support telah jebol, rally terjadi untuk naik kembali ke es yang saat ini telah menjadi resistance untuk mengecek demand. Pada fase inilah, gelombang terakhir dari supply masuk dan masuk fase mark-down.

Fase E ==> Mark-down

2) Distribusi dengan Tipuan  

Bentuk kedua dari pola distribusi. Silahkan simak gambar dibawah:

Anatomi distribusi Wyckoff dengan tipuan
Beda dengan sebelumnya adalah pada fase C:

Fase C ==> Weakness
UTAD (Upthrust after Distribution) ==> Setelah terjadinya SOW, emiten malah terbang untuk naik keatas. Disinilah test definitif terjadinya untuk menguji kekuatan demand. Bisa juga untuk mengelabui seolah-oleh trend berlanjut. Terkadang juga menembus hingga resistance dari trading range. Kenaikan biasanya tidak dengan dibarengi volume yang tinggi. Atau, jika dengan volume yang tinggi, cuma tertahan di pertengahan trading range. Jika kita melakukan "buy" pada UTAD dan menyangkan bahwa akan uptrend, maka kita sudah terjebak.

Pada bagian selanjutnya akan kita bahas mengenai anatomi trading Wyckoff untuk akumulasi.

Wednesday, April 8, 2020

Cara Monitor Saham yang Dibeli

Monitor Saham
Sobat Investor, sebenarnya mau berapa pun jumlah saham yang kalian punya itu bisa di-manage, asalkan duitnya ada. Salah satu sebab kenapa pegang saham jangan banyak-banyak adalah ketika terjadi crash, kecenderungan duit kalian habis untuk average down ataupun cut loss bisa sangat tinggi. Salah keduanya, terlalu banyak melakukan trade, margin keuntungan bisa berkurang karena fee dan tidak sepadan dengan resikonya. Kenapa tidak sepadan dengan resikonya? Karena ada momen-momen tunggu terhadap sebuah saham atau istilahnya fase konsolidasi untuk membuktikan bahwa dia konfirm penguatan atau pelemahan. Momen ini adalah krusial. Jika anda paksa masuk, anda akan menjadi pihak terlemah karena gampang terjadi swing pada posisi ini. 1,2 trade anda bisa lolos dan cuan. Namun ketika salah, modal anda bisa terkurung dalam sebuah saham. Dan, pilihannya adalah inject modal lagi atau cut loss. Bisa jadi setelah cut loss, saham malah naik. Nah untuk itulah perlu konfirmasi dari market, sebelum masuk. Tidak usah takut ketinggalan kereta. Ada ratusan saham di IHSG. Yang terpenting adalah menyiapkan modal dan masuk di waktu yang tepat.

Kembali lagi mengenai topik yang akan kita bahas, mengapa dan bagaimana memonitor saham yang dibeli?  

Monitor saham yang dibeli itu penting karena untuk menunjukkan kapan saya harus masuk, kapam saya harus out dan kapan saya harus average. Bagaimana caranya? 

Pertama yang harus dilakukan anda "keker" saham yang mau anda beli. Ketika masuk radar dan sinyal beli muncul, jangan ragu untuk beli. Jika ternyata turun, anda perlu belajar lagi kenapa metoda saya salah. Siap untuk cut loss atau average down. Tergantung saham yang anda beli, kalau gorengan ya buang, kalau fundamental bagus, ya siap untuk average down. Untuk tahu kapan posisi beli, salah satu caranya adalah metode fibo. Bisa dilihat pada tulisan berikut.

Kedua, 
Buat tabel list saham yang anda beli, bisa di excel atau di cloud. Kalau pakai excel, taruh flash disk. Jadi bisa dibawa kemana-mana jika misalkan anda harus pakai komputer. Kalau pake cloud, misalkan google drive, lebih mudah. Dimanapun anda berada, bisa monitor posisi anda dalam sebuah trade. Cuma butuh komputer dan sambungan internet.

Contoh item yang ada di dalam list tersebut adalah sebagaimana berikut.

Item list dalam tabel monitor saham

Code ==> Nama Emiten
Avg    ==>  Jumlah Average
Last     ==> Harga terakhir
Lot        ==> Jumlah saham yang dibeli

Empat informasi diatas adalah bisa didapat dari sistem online trading kamu. Kalau kamu pakai Mirae, bisa langsung ekstrak dalam bentuk excel. Jadi, setelah itu tinggal copi paste data yang kamu dapat. Selanjutnya adalah data yang digunakan untuk monitoring.

Gain/Loss ==> Pakai formula fungsi "if" di excel, jika nilai "last" melebihi "Avg" maka GAIN. Fungsinya adalah untuk memberitahu kamu apakah saat ini kamu berada dalam kondisi untung atau rugi.
Value ==> Jumlah modal yang kamu miliki. Nilai "Last" dikalikan dengan "Lot" kali "100".
Total In ==> Jumlah modal yang sudah kamu keluarkan. Nilai "Avg" dikalikan dengan "Lot" kali "100".
Gain/Loss  ==> Berapa jumlah untung rugi. Nilai "Value" dikurangi "Last".
% Loss  ==> Jumlah untung/ rugi. Nilai "Gain/Loss" dibagi dengan "Total in"
Setting  ==> Pivot point dimana kamu akan menengok tradingmu. Entah untuk cut loss, average dsb. Pada bagian ini, nilainya disambungkan dengan alarm trading anda. Dan, dua posisi harus diisi, batas bawah dan batas atas. Antisipasi ketika naik maupun turun.  
Trigger ==> Fungsi "if" untuk memberitahu ketika setting alarm tercapai. Hal ini sebagai pre-caution ketika alarm trading lupa untuk anda aktifkan. Nah, trigger ini diisi dengan kondisi, ketika nilai setting terpenuhi, maka akan menunjukkan "wording yang berbeda". Pada contoh diatas adalah sebagai berikut: =if(D4 < P4,"ALERT","KEEP") untuk setting "low".
Ketika kondisi tercapai, maka wording trigger akan berubah menjadi "ALERT". 

Tabel diatas bisa diupdate tiap pagi atau sore (satu hari sekali) atau seminggu sekali, tergantung dari cara trading anda. Tabel ini akan memberitahu anda akan tindakan yang akan dilakukan ketika pivot ter-trigger.

Selamat Mencoba

Tuesday, April 7, 2020

[Report] Average Down Untuk Keluar dari Nyangkut di Saham

Pada kesempatan kali ini, mimin ingin sedikit menjelaskan mengenai contoh pengaplikasian average down untuk keluar dari sebuah saham. 

Kenapa kita keluar dari saham? 
Menimbang dari fenomena naik-turunnya IHSG saat ini dengan dibayangi sentimen perekonomian yang kurang baik terhadap situasi yang sedang terjadi. Alangkah baiknya, mengamankan modal terlebih dahulu saat terjadi rebound. Segala keputusan ada di tangan Sobat Investor sekalian. Namun, apabila ingin keluar dari sebuah saham yang nyangkut, tulisan kali ini mungkin perlu untuk disimak.

Contoh salah satu average down yang berhasil dilakukan mimin adalah average down dari saham WIIM.

Kondisi awal:
Mimin membeli WIIM ketika mencapai angka 139, all time low WIIM pada saat itu 40 lot di harga tersebut.

Saham WIIM sebelum dibeli
Setelah Pembelian:
Saham WIIM ternyata meluncur turun hingga dibawah 100 dan rebound kembali. Pada saat rebound itulah penulis memutuskan untuk average down saham WIIM diangka 96 dengan 2x modal dari pembelian pertama. Average menjadi 108 dan minus ketika itu menjadi -10%

Sebelum average down minus masih -30%. Panduan untuk mengukur berapa banyak modal average down dibutuhkan untuk mengurangi minus hingga ke angka tertentu, bisa dilihat pada tulisan berikut.

Saham Wiim setelah dibeli

Setelah Average Down:
Saham WIIM melanjutkkan kenaikan hingga pernah mencapai angka 120. Kemudian berbalik arah di kisaran 108-110 as per 7 April 2020
Average down untuk lolos dari Saham WIIM
Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu kalian untuk keluar dari bad trade.      

Sunday, April 5, 2020

Menghadapi Tekanan Akibat Floating Loss di Saham

Jika anda sering jatuh dalam sebuah bad trade, apalagi ketika kondisi IHSG seperti quartal pertama tahun 2020 ini, tentu pengalaman yang sangat tidak menyenangkan.

Seperti mimin pernah tulis dalam sebuah posting berikut, ada faktor yang perlu diperhatikan dalam trading di bursa, yakni intermarket. Hal ini disebabkan uang akan lari ke medium yang memiliki return paling tinggi.

Mari kita lihat hubungan antara kurs USD-IDR, IHSG dan juga emas pada grafik berikut:

Grafik inter-market
 
Bisa dilihat pada grafik diatas, bahwa antara valas USD dengan IHSG hampir berbanding terbalik. Pada saat gambar diambil, IHSG minus -21% dan USD plus 21%. Ketika USD naik, IHSG turun. Ini mengindikasikan bahwa IHSG sangat dipengaruhi oleh asing.

Juli 2019 hingga Januari 2020 bisa dilihat bahwa terjadi sideways cukup panjang antara USD dengan IDR artinya disini market berada dalam kondisi antisipasi. Dalam kondisi antisipasi tersebut, investor mulai beralih ke emas sebagai safe haven. Maka dari itu, harga emas melonjak pada saat sideways antara USD dengan IHSG sebagai upaya antisipasif. Dan benar sekali, pada akhirnya, terjadi perubahan yang signifikan setelah sideways cukup panjang dan dimenangkan oleh USD. Artinya, terjadi capital outflow asing yang besar-besaran dari IHSG.

Kita kembali lagi ke dalam inti tulisan kita, bagaimana seandainya saya belum sempat keluar dari IHSG? Artinya, saya masih punya posisi di beberapa saham dan saat ini berada dalam posisi floating loss.

Banyak orang panik dan mungkin juga merasa tertekan melihat kondisi market. Setelah kejatuhan IHSG menuju ke 4000, meskipun saat ini dalam posisi rebound, kondisinya masih belum normal seperti sediakala. Bayangan sentimen negatif terus menerus ada di sepanjang tahun 2020 ini. Hal ini mencegah publik untuk segera masuk ke pasar modal.

Cara pandang sebuah masalah bisa meneguhkan hati kita atau malah meruntuhkannya. Pikiran tidak sadar manusia tidak bisa membedakan mana antara kenangan yang riil ataupun imajinasi pengalaman. Ia bisa menangkap data apapun dan juga sekalian sebagai mesin pemroses. Maka dari itu bagaimana kita memandang sebuah peristiwa akan menentukan bagaimana respon kita terhadap apa yang sedang kita alami.

Hal ini begitu penting sebagai perspektif dan menentukan tindakan kita kedepan. Kita harus memiliki framing terhadap sesuatu sehingga kita tidak banyak bereaksi, namun beraksi. Jika kita telah memikirkan bahwa saham yang kita pilih punya potensi turun, maka kita tidak akan perlu kuatir ketika turun karena plannya sudah ada. Namun, ketika kita tidak punya rencanan saham yang kita miliki akan turun, maka kita akan bereaksi. Dan, sebagaimana umumnya reaksi yang bersifat spontan, jika kita tidak menghadapinya dengan baik, maka segala tindakan kita akan tidak terukur dan malah memperbesar masalah tersebut.

Nah, jika Sobat Investor belum tahu apa yang harus dilakukan terhadap saham yang turun, maka hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menjawab pertanyaan kenapa kamu masuk ke dalam saham tersebut. Dari sini kita akan mengenali kekurangan kita dalam trading.

Lantas bagaimana selanjutnya, saya sudah terlanjur loss
Tentu saja harus belajar kembali dari kesalahan yang telah lalu. Sobat investor harus belajar kembali mengenai pasar saham. Menguasai basic dari pasar saham tersebut. Salah satu contoh pertanyaan adalah apakah pergerakan harga saham dipengaruhi oleh supply-demand market atau ada pemain yang bisa mempengaruhi harga sebuah saham? Bagaimanakah kharakteristik pembentukan harga sebuah market?

Jika dasar telah dikuasai, maka Sobat Investor sudah punya gambaran terhadap saham yang saat ini sedang dipegang. Mau terus dipegang, average-down atau cut-loss.

Jadi, kondisi floating loss bisa dijadikan sebagai pelajaran. Apa yang kamu lakukan sesudahnya akan menentukan apakah floating loss ini bisa diubah menjadi floating profit. Segala hal yang terjadi pada diri kita harus kita maksimalkan untuk menyiapkan diri kita lebih baik di masa depan.

Popular Posts